Pada hutan mangrove Cilacap terdapat zonasi yang khas dari garis pantai kea rah darat. Zonasi ini merupakan pencerminan dari adeanya perbedaan faktor-faktor lingkungan antara zona yang satu dengan zona yang lain. Faktor-faktor lingkungan tersebut antara lain salinitas, lamanya genangan air selama sehari semalam, frekuensi genangan dalam sebulan dan tipe tanah (Haditenojo dan Abas, 1982).
Zonasi tersebut dari tepi laut atau muara sungai kepedalaman berturut-turut ialah sebagai berikut :
Zona I (zona Avicennia , terletak paling depan, yaitu : di perbatasan antara laut atau sungai dengan daratan). Tumbuhan yang dominan adalah jenis api-api (Avicennia) dan seringkali merupakan komunitas murni,
Zona II (zona Rhizophora), terletak di belakang zona Avicennia. Rhizophora merupakan jenis tumbuhan yang dominan pada zona ini, sedangkan jenis-jenis Avicennia jauh berkurang. Ciri khas pada zona ini adalah adanya substrat berupa Lumpur yang cukup dalam dengan genangan air antara 0.5 - 1.5 meter,
Zona III (zona Bruguiera), terletak di belakang zona Rhizophora, dengan kondisi tanah relative agak keras dan terdapat sedikit genangan air laut. Zona ini dipandang sebagai zona peralihan dari hutan mangrove ke hutan darat ; dan
Zona IV (zona hutan darat kering), merupakan zona yang paling belakang. Pengaruh air laut pada zona ini hampir tidak ada lagi, karena letaknya relative jauh dari pantai yaitu berada di belakang zona Bruguier. Jennies-jenis tumbuhan yang berkembang di daerah ini merupakan jenis tumbuhan darat biasa.
Rhizophora apiculata
Gambaran umum: Rhizophora apiculata adalah tumbuhan mangrove yang memiliki akar tegak seperti R. mucronata. Daunnya memiliki ujung yang tajam, pohonnya mampu mencapai tinggi 15 m, bunganya membentuk kelompok dua buah.

Pengumpulan benih: Ketika benih yang ada telah matang dan siap untuk dipetik dari pohon, maka batang berwarna merah yang telah siap dipotong akan tampak dengan jelas – pada tahap ini panjang
hipokotil pada umumnya akan mencapai lebih dari 20 cm.
Penyimpanan benih: Dalam tempat yang teduh, dan dalam kondisi lembab – maksimum selama 5 hari.
Teknik Penyebaran Benh dan Penanaman Dalam Pot: Tanah yang digunakan sebaiknya adalah tanah yang berlumpur (mengandung kadar garam). Benih haruslah ditanam sedalam 5-6 cm. Kantong plastik yang digunakan sebaiknya berukuran sedang.

Penutupan: Dibutuhkan penutupan sebanyak 50%, bukalah penutup ini 1 bulan sebelum proses penanaman dilakukan.
Pengairan: jika memungkinkan aliran pasang alami, tetapi ditambah pula dengan penyiraman air guna menjaga kelembaban tanah sepanjang waktu.
Siap untuk ditanam: jika tinggi tanaman bibit telah mencapai lebih dari 30 cm, dan memiliki lebih dari dua pasang daun, pada umumnya berusia 4-5 bulan.
Letak pada garis pantai: sebaiknya diletakkan pada lokasi yang memiliki kadar garam rendah pada permukaan yang berlumpur lembek, dan diantara posisi air laut rata-rata serta rata-rata gelombang pasang yang tertinggi.
Jarak penanaman: sistem akar tegak membutuhkan ruang yang cukup sehingga jarak sebanyak 1 m x 2 m dan 2 m x 3 m adalah yang terbaik.
MANGROVE “SONNERATIA ALBA”
Sonneratia alba adalah salah satu jenis pohon yang hidup di hutan mangrove. Jenis yang merupakan famili dari Sonneratiaceae ini memiliki nama daerah antara lain pedada, perepat, pidada, bogem, bidada, posi – posi, wahat, putih, berapak, bangka, susup, kedada, muntu, pupat dan mange – mange. Namun masyarakat di sekitar Taman Nasional Baluran mengenalnya dengan sebutan Pedada.

Klasifikasi :
Divisi :Magnoliophyta
Kelas :Magnoliopsida
Bangsa :Magnoliales
Suku :Sonneratiaceae
Marga :Sonneratia
Jenis :Sonneratia alba
Ciri-cirinya :
Pohonnya selalu hijau.
Kulit kayunya berwarna putih tua hingga coklat.
Tangkai bunga pohon ini tumpul dengan panjang 1 cm.
Daun mahkota warnanya putih, mudah rontok.
Buahnya seperti bola, ujung bertangkai dan terbungkus kelopak bunga.

Benang sari banyak, ujung berwarna putih dan pangkalnya berwarna kuning serta mudah rontok. Kelopak bunga 6 – 8, berkulit, bagian luar warnanya hijau sedangkan di dalamnya kemerahan.

Akarnya berbentuk kabel di bawah tanah dan muncul di atas permukaan tanah sebagai akar nafas yang berbentuk kerucut tumpul.
Daunnya berkulit, bentuknya bulat telur terbalik ujungnya membundar.
Avicennia marina
Gambaran Umum: Avicennia marina memiliki bentuk pneumatophores seperti pinsil, bentuk ujung daun yang bervariasi, dengan ketinggian pohon mencapai 20 m, bentuk bunga yang kecil dan membentuk kelompok 8-14. Bentuk buah seperti almond, terkadang memiliki ujung berbentuk seperti piala pendek dengan panjang 1.5-2.5 cm.
Pengumpulan benih: Ketika kulit buah berubah dari warna hijau ke kuning muda dan menjadi berkerut.
Penyimpanan benih: Dalam tempat yang teduh, dan dalam kondisi lembab selama maksimum 10 hari.
Teknik Penyebaran Benih dan Penanaman Dalam Pot: rendam buah dalam air tawar selama 1 hari untuk menghilangkan tempat benih. Sebarkan benih pada tanah yang mengandung campuran lumpur dan pasir serta mengandung kadar garam. Benih dapat tumbuh di tanah hingga tumbuh akarnya untuk kemudian dipindahkan ke kantong plastik berukuran kecil hingga sedang. Benih sebaiknya ditanam sedalam 1/3 tanah dengan bagian ujungnya menghadap kebawah.

Penutupan: dapat tumbuh dibawah sinar matahari penuh.
Pengairan: jika memungkinkan aliran pasang alami, tetapi ditambah pula dengan penyiraman air guna menjaga kelembaban tanah sepanjang waktu.
Siap untuk ditanam: jika tinggi tanaman bibit telah mencapai lebih dari 30 cm, dan memiliki lebih dari dua pasang daun, pada umumnya berusia 3-4 bulan.
Letak pada garis pantai: dapat tumbuh pada semua tingkatan lokasi di sepanjang pesisir, tetapi lebih menyukai di ruang terbuka dengan sinar matahari penuh, dan sangat toleran terhadap kandungan garam yang tinggi dalam tanah, merupakan tanaman pelopor.
Jarak penanaman: 2 m x 3 m adalah yang terbaik.
www.nusapalapa.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
terima kasih kunjungannya. silahkan lihat detailnya di
www.nusapalapa.com
tempatnya juragan kumpul